Jumat, 27 Januari 2012

Hidup Kedua

Tak ada alasan untuk menyerah. Bahkan terlalu dini. Terlalu dini unuk dapat menyimpulkan sebuah hidup yang baru.
Tak ada alasan untuk terhenti. Berhenti menikmati damainya alam. Bahkan untuk sebuah jiwa yang baru.
Pernah ku lewati semua. Denganmu. Tanpamu.
Pernah ku lewati semua. Sepi. Letih. Tertatih.
Pernah ku lihat jiwa berterbangan bagai kapas yang melayang dalam sepi.
Pernah ku lihat mayat bertaburan dalam balutan angin dingin yang menerpa.
Hanya jiwa yang kosong yang tersisa. Jiwa gusar yang menyendiri.
Takkan angin menerbangkannya. Takkan hujan meluruhkannya.
Karena jiwa itu kuat. Bahkan terlalu kuat untuk dimusnahkan.
Karena jiwa itu aku. Aku yang mencari tubuh. Tubuh bagi jiwaku yang terlalu dingin.
Kini aku hidup. Sendiri. Hanya bersama hembusan angin yang lembut. Hanya bersama hujan yang membasuh perih.
Tak mungkin tak dapat ku lewati. Meski harus kembali mati. Takkan pernah mengubur rasa di hati.
Tak mungkin tak dapat ku tegar. Karena ku telah banyak belajar. Menjadi orang yang lebih pintar.
Pernah ku kehilangan hidupku. Berganti dengan rasa di surga.
Pernah kutanya dalam diri. Mengapa harus hidup kembali. Mengapa harus mengubur segala mimpi.
Andai ku dapat memilih. Ku kan tetap berada di surga. Dan meninggalkan dunia fana.
Namun kini ku kembali. Turun bersama hujan. Diterbangkan oleh angin.
Ini jiwaku. Ini hidupku. Hidup keduaku.
Sendiri ku lalui. Ku bisa. Berdiri dengan kaki sendiri. Meratapi sepi dalam hati.
Tak ada yang peduli. Tak ada yang mengerti. Hanya seorang diri. Temaram. Dalam malam yang mencekam.

Kamis, 19 Januari 2012

Lembaran Kelabu


Semua hal kan berganti
Mengulang indahnya hari
Yang telah lama tersakiti
Andai kau dapat mengerti
Aku mencintaimu sepenuh hati
                Semua hal kan berubah
                Menjadi suatu hal yang mudah
                Hal itu yang selalu dikatakan pepatah
                Menghapus semua rasa gundah
Hanya itu hal yang kumau
Bukan untuk ku miliki dirimu
Hanya ingin kau mengerti aku
Seperti waktu yang terdahulu
                Ku hanya ingin setia
                Agar dapat buatmu bahagia
                Seperti rasa bakpia
                Yang selalu buatku ceria
Kini kau telah berlalu
Meninggalkan semua masa lalu
Tertinggal diriku penuh pilu
Yang tersisa dalam hidupku
Hanya sebuah rasa ragu

-mei 2010-

Sabtu, 31 Desember 2011

Berganti Sebuah Masa

Semua takkan sama lagi. Semua hilang. Rasa yang temaram itu kini harus padam dalam debu. Desiran angin membawaku dalam lamunan yang tak berujung. Sendu. Sepi. Sendiri. Takkan lagi ada seperti dahulu. Takkan lagi hidup semua kenangan itu. Masa itu telah tenggelam. Tenggelam disekam sepi. Abu. Kelabu. Masa itu telah hilang. Terganti dengan apa yang tak terbayang. Sepi sunyi kujalani sendiri. Tiada berkawan. Hanya alam. Hanya hujan. Semua pergi. Dalam gulita yang mencekam.
Terbayang semua ini terlalui. Melalui hari sendu dimana hanya ada air mengalir. Air yang mengalir deras yang jatuh dari pelupuk mata. Serta air yang turun dari langit yang setia menemani. Apa yang terbayang dalam benakku kini harus kulalui. Tak ada kesal. Tak ada sesal.
Ku pernah lalui semua. Dan tak ada kata yang urung di hati. Karena semua telah berjalan. Sepi sendiri pernah ku lalui. menatap hari dalam lembayung kepasrahan. Meminta semua takkan pernah terjadi. Namun apa daya, kini ku terjerembab kembali. Dalam dimensi yang mati dan waktu yang terbunuh sepi.
Tak ada alasan untukku untuk tak tegar. Tak ada alasan untukku untuk menghindar. Semua telah kembali. Seperti sedia kala tanpa seorangpun yang peduli. Kuingat saat itu. Saat dimana ku terjatuh dalam jeram asa yang tiada terbatas. Yang kupunya hanya kekuatan. Yang lindungiku dari ancaman. Sulit rasa bertukar semua. Terjerembab dalam bayangan diri. Kelam. Hitam. Masa indah itu telah radu. Beradu dalam bayang ilusi yang hantarkan diri. Terganti dengan asa yang tak terasa.

Minggu, 18 Desember 2011

waktu terbatu

Kali ini ia berjalan terlalu cepat. Bahkan tak dapat seorangpun menyadarinya. Ia mungkin telah datang. Datang bersama rasa yang ragu. Hari telah berganti. Lembaran baru telah terbuka. Menguak semua rahasia alam yang tersimpan abadi.
Waktu.. Kini iapun terhenti. Waktu.. yang buatku jadi beku. Waktu.. yang berikanku hari. Waktu.. ia tak berputar. Ia diam. Waktu.. yang kan buatku terpuruk. dan waktu.. yang kan buatku hancur. Waktu itu yang terbatu.
Sebuah ilusi yang berbeda. Hanya waktu yang dapat ungkap. Ungkap semua rahasia yang terpendam. Dalam. Dalam relung angan dan imaji diri yang terus menari dalam khayalan. Waktu yang kan jawab semua tanya kini dan lalu. Dapatkah waktu bersamaku? Walau sekejap. Walau sebentar. Hanya anganku menari menunggu kedatangan sang waktu. Gelisah mendamba waktu yang terbatu di ujung sebuah masa.
Waktu, masa itu takkan pernah ada. Takkan pernah ada untukku. Bukan akulah yang kau cari. Waktu, berlalulah dengan segera. Pergilah menuju masa depan bersama anganmu. Angan yang tak pernah terwujud.
Dialah waktu itu. Waktu yang ada. Waktu yang tersisa. dialah waktu itu. Waktu yang terhenti. Tepat diaat ini. Dan belum berlalu.

Semua catatan mengenai sang mimpi telah hilang. Lebih keras berusaha dan semakin menghilang.
Takkan semuanya hanya angan. Kutulis semua. Tak dapat ku temu.
Mungkin bagian dalam dirinya yang lain.
Semakin teringat dan semakin terlupakan. melihat akhir masa dalam sudut pandang berbeda.
Bukan dirinya. Semua terasa janggal. Aneh.
Terdapat saksi. Saksi yang menghapus ingatan.
Dimana terdapat semua itu? Terpikirkah dalam benakmu?
Hanya akhir masa yang tersisa. Bukti yang sangat kuat itu sirna.
Bahkan tak dapat ku bertemu waktu tanpanya. Tak dapat ku menahan waktu karenanya.
Dimana ku harus mencarinya? Dimana ku dapat temukan?
Terlalu rapih. Seperti tak pernah tercipta. Seperti terbangun dalam tidur yang terjerembab.

Kini ia telah menghilang. Ada suatu rasa lega dalam dada. Terasa kini semua berubah. Takkan pernah ada yang sama lagi. Kini ia telah berpulang. Pada dirinya yang lebih terang. Waktu telah kembali berputar. Berputar seperti semula. Berlalu dengan cepat. Menghapus semua cerita yang telah tercipta.
Waktu, hanya angan diriku yang kan mampu. Mampu menghapus segala bayang ilusi yang tercipta dalam diri. Pergilah waktu, jauhi diriku. Tenggelamlah Bersama rasa yang tak pernah ada.
Waktu, ku telah bahagia. Mungkin bukan bagian dari dirimu. Mungkin hanya anganku. Anganku tuk dapat milikimu. Kini kau telah berlalu. Meninggalkan semua masa lalu. Biarlah aku sendiri sepi. dalam malam yang gulita.

Sabtu, 19 November 2011

Hujan Aku

Hujan di sore itu teduhi jiwa. Berpayung awan. Berperisai pelangi.
Hujan itu menungguku. Menunggu untuk berjibaku bersamanya. Hilangkan peluh yang tersisa dalam diri.
Hujan itu ada. Ada dalam sepi. Ada dalam hati. Tak semua orang dapat mengerti. Hanya orang yang mau tenggelamlah yang mengerti. Tenggelam bersama dalam dinginnya balutan angin yang kan menerpa.
Hujan itu aku. Temani diri dalam rasa kelu. Menghapus semua rasa pilu.
Hujan itu aku. Menembus langit di balik awan. Membuka cakrawala dalam mata.
Hujanku takkan buat keluh. Takkan buat kelu. Lalu mengapa ada rasa kelu pada hujanku?
Hujanku tiada lawan. Hanya bertahan mencari kawan.
Kan ku ingat suasana sore ini. Sebagai lukisan diri alami.
Kan ku ingat langit sore ini. Sebagai potret diri abadi.
Hujan aku teduhi hati. Naungi jiwa.
Hujan aku hapus semua pilu. Semua kelu dalam diri.
Hujan aku basahi hati. Goyahkan ambisi. Menutup ego.
Hujan aku lembut. Terlalu lembut. Hanya balutan angin yang kan buatnya tajam.
Hujan aku hapus semua peluh. Peluh yang ada dalam masa lalu.
Hujan aku bersinar. Bersinar dengan warna yang begitu terang.
Dapatkah kau lihat? Hujan buatkan perisai untukmu, sayang. Andai kau bisa mengerti.
Hujan itu aku. Bagian dari diriku. Diriku yang lain. Diriku yang deras.
Hujan aku tak kelabu. Takkan pekat.
Hujan aku baunya membiru. Lebur dengan rasa ingin tahu.
Hujan aku rintihan yang sangat dalam. Teriakan alam yang pekakkan telinga.
Dan kini, Hujanku meradu. Dalam kasih yang syahdu.